Oseng-Oseng Mercon Bu Narti Yogyakarta

  • Lokasi / Alamat Oseng – Oseng Mercon Bu Narti
    Jalan K.H. Ahmad Dahlan, depan gulai kepala ikan Bank JO
  • Menu unggulan
    Oseng – oseng mercon
  • Harga makanan
    Oseng – oseng mercon : Rp. 15. 000
  • Daftar menu
    – Ayam goreng / bakar
    – Lele goreng / bakar
    – Burung dara goreng / bakar
    – Bebek goreng / bakar
    – Puyuh goreng / bakar
    – Iso, babat, rempelo ati, kepala
    – Oseng – oseng mercon
  • Jam buka
    Pukul 18.00 – 22 .00 WIB

Oseng-oseng mercon adalah makanan yang telah umum dikenal di Yogyakarta dan para wisatawan. Oseng-oseng mercon milik Bu Narti ini terkenal akan rasa pedas yang seperti meledak ketika dimakan. Makanan ini awal muilanya hanya sebagai coba-coba, karena Bu Narti ini sering mendapatkan daging kurban yang berisi daging, kulit, gajih, kikil dan jeroan. Lalu oleh Bu Narti semua bahan tersebut dimasak dengan cabai rawit, ternyata banyak orang yang menyukainya. Itulah awal mula Bu Narti menjual Oseng-oseng Mercon yang telah terkenal di Yogyakarta.

Oseng mercon sendiri merupakan pangan yang dibuat dari bahan utama berupa tetelan daging sapi (koyor). Tetelan tersebut kemudian dimasak dengan cara dioseng alias ditumis. Yang membedakannya dengan oseng daging sapi yang lainnya, oseng mercon menggunakan bumbu cabe rawit yang sangat banyak sehingga rasanya sangat pedas.

Karena rasanya yang super pedas itulah akhirnya oseng ini diberi tambahan kata mercon di belakangnya. Hal itu untuk menunjukan jika orang yang memakan oseng ini mulutnya akan terasa meledak oleh mercon karena sangat pedas.

Meskipun sudah menggunakan istilah mercon, namun ternyata banyak pembeli yang juga menjulukinya dengan nama lain seperti oseng granat atau halilintar. Hal tersebut menunjukan bahwa oseng ini memang sangat pedas dan akan membuat Anda meledak-ledak ketika memakannya.

Saat ini oseng mercon tidak hanya dapat dijumpai di Jogja saja karena kuliner yang satu ini sudah menyebar ke berbagai kota lainnya di Indonesia. Bahan-bahan yang digunakannya juga sudah bervariasi, mulai dari daging ayam, kikil, jeroan, ati ampela, dan lainnya.

Bu Narti tidak hanya menyediakan Oseng-Oseng Mercon yang memiliki rasa pedas tetapi juga menyediakan makanan lain seperti ayam goreng atau bakar, bebek goreng dan bakar, dan makanan lainnya.

Fugu (babi sungai) adalah kata dalam bahasa Jepang untuk ikan buntal dan makanan yang dibuat dari ikan ini dari genus Takifugu, Lagocephalus, atau Sphoeroides) atau ikan landak (dari genus Diodon). Fugu dapat sangat beracun karena mengandung tetradotoxin, karena itu harus hati-hati penyediaannya untuk menghilangkan bagian yang beracun agar tidak mengkontaminasi daging.

Persiapan memasak Fugu di restoran sangat diawasi ketat oleh hukum di Jepang dan beberapa negara lain, hanya koki yang bersertifikasi dan telah mengikuti pelatihan khusus yang boleh menangani ikan ini. Persiapan sendiri di rumah biasanya akan mengakibatkan kematian.

Fugu disajikan sebagai sashimi dan chirinabe. Bagian yang paling enak pada Fugu adalah hati namun juga merupakan yang paling beracun, dan penyajian organ ini di Jepang telah dilarang pada 1984. Fugu telah menjadi salah satu hidangan paling terkenal dan menantang dalam masakan Jepang.

Kandungan Racun
Fugu mengandung jumlah mematikan racun tetrodotoxin pada organnya, terutama pada hati, ovarium dan kulit. Racun Fugu merupakan penghalang aliran sodium, melumpuhkan otot sementara korbannya dalam keadaan sadar. Korban tidak dapat bernapas dan akhirnya meninggal dari asphyxiation. Tidak ada antidot yang diketahui, perawatan standar untuk menolong korban adalah membantu sistem respirasi dan sirkulasi sampai racun dimetabolisasi dan dikeluarkan oleh tubuh korban.

Kemajuan dalam penelitian dan budidaya telah memungkinkan petambak untuk memproduksi Fugu secara massal. Para peneliti menduga bahwa tetrodotoxin pada Fugu berasal dari memakan hewan lain yang mengandung bakteri tetrodotoxin-laden dan bahwa ikan ini telah mengembangkan kekebalan dalam tubuhnya seiring waktu. Kini, banyak petambak memproduksi Fugu ‘bebas racun’ dengan menjauhkan Fugu dari bakteri tersebut. Usuki, sebuah kota di prefektur Ōita telah dikenal dalam penjualan fugu yang bebas dari racun.

Sejarah
Penduduk Jepang telah memakan fugu selama ratusan tahun. Tulang fugu dapat ditemukan di beberapa gundukan yang disebut kaizuka, dari era Jōmon pada lebih dari 2.300 tahun yang lalu. Kekaisaran Tokugawa(1603-1868) melarang konsumsi fugu di Edo dan wilayah kekuasaannya yang lain. Fugu menjadi kebiasaan lagi setelah pengaruh kekaisaran melemah. Di bagian barat Jepang, di mana pengaruh pemerintahan melemah dan fugu lebih mudah didapat, bermacam-macam cara memasak fugu dikembangkan untuk lebih aman mengkonsumsinya. Selama era Meiji (1867-1912), fugu kembali dilarang di banyak wilayah. Fugu juga menjadi satu-satunya makanan yang dilarang di Kekaisaran Jepang, untuk keselamatannya. Fugu pada zaman dulu dan sekarang adalah masakan favorit di Cina yang disebutkan dalam literatur sekitar awal 400 SM. Fugu menjadi urutan pertama dari tiga jenis makanan paling enak dari sungai Yangtze.

Spesies
Torafugu, atau ikan buntal harimau (Takifugu) merupakan spesies yang dapat dimakan paling berkelas dan paling beracun. Spesies lain yang juga dapat dimakan adalah : Higanfugu (T. pardalis), Shōsaifugu (T. vermicularis syn. snyderi), and Mafugu (T. porphyreus). Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja dan Kesejahteraan Jepang mempunyai data yang menunjukkan bagian tubuh mana dari spesies yang dapat dimakan. Daftar nama yang aman dari Genus Lagochepalus dan Sphoeroides dan ikan landak (Harisenbon)dari Genus Diodon

Fugu

Memakan ikan fugu, ibarat melakukan Russian Roullete. Selalu ada peluang untuk mati. Ikan fugu, yang di Indonesia dikenal dengan nama ikan buntal, memang mengandung kadar racun yang sangat berbahaya. Ikan ini bisa mengembungkan diri dan menyebar racun ke seluruh tubuhnya untuk bertahan dari musuh. Racun fugu terletak di bagian hati (liver) dan perutnya (ovarium). Cara bekerja racun Fugu juga cepat. Sesaat setelah memakan ikan fugu, lidah kita akan kaku dan tubuh menjadi lumpuh. Racun Tetrodoxin yang terdapat di ikan fugu memang bekerja dengan melumpuhkan otot dan syaraf kita. Saat lumpuh, kita tetap sadar, tapi tak bisa bergerak, hingga kehabisan oksigen, dan berakibat pada kematian.

Cara Mengolah

  1. Ada banyak spesies ikan buntal. Mereka tidak sembarangan memasak ikan buntal jenis apa pun. Para chef profesional berlisensi hanya menggunakan torafugu atau tiger puffer. Jenis ini memiliki kandungan racun yang lebih sedikit dibanding jenis ikan buntal lainnya.
  2. Pertama, buang kulitnya. Mereka mengiris kulir bagian mulut dan menarik kulitnya seperti menguliti kaki kambing.
  3. Mereka kemudian akan mencuci hingga tak ada lagi lendir atau yang mereka sebut dengan jeli. Kemudian, lumuri dengan garam.
  4. Untuk menghilangkan duri, mereka menahan kulit ikan buntal, dan memotong duri menggunakan pisau tajam, dalam sekali gerakan.
  5. Buang mata ikan buntal.
  6. Membelah, bagian hati dan ovarium tidak boleh terkena. Karena kedua organ tersebut paling banyak kandungan racunnya. Kalau salah langkah dan kamu memecahkan kedua organ tersebut, racun itu akan keluar dan menyebar ke seluruh bagian ikan.
  7. Setelah sudah membuang organ dalam yang sangat beracun, Pasalnya, tak semua orang Jepang juga bisa mengiris daging ikan untuk sashimi. Pokoknya, mereka yang sudah lihai kemudian mengiris daging ikan buntal sangat tipis hingga tersisa tulangnya saja.
  8. Koki akan membelah kepala ikan buntal menjadi dua atau tiga bagian. Bagian ini hanya bisa dimakan setelah direbus saja. Koki harus memiliki lisensi resmi agar boleh menyajikan fugu.

Trites (Pagit-pagit)

Batak Karo adalah suku asli yang mendiami dataran tinggi Karo. Nama suku ini dijadikan nama kabupaten yang berada di Sumatera Utara yang dinamai Kabupaten Karo. Suku Karo mendiami dataran tinggi karo (karo gugung), Kabupaten Deli Serdang, Kabupaten Langkat, Kota Binjai, Kabupaten Dairi, Kota Medan, dan Kabupaten Aceh Tenggara. Suku karo juga memiliki bahasa tersendiri yang disebut Bahasa Karo, dan memiliki salam khas, yaitu Mejuah-juah.

Salah satu warisan masakan khas dari Tanah Karo adalah Pagit-pagit atau sering juga disebut dengan nama Trites. Masakan yang satu ini biasanya dihidangkan pada acara-acara tertentu saja seperti acara syukuran panen raya masyarakat karo atau sering disebut dengan pesta kerja tahun atau Merdang Merdem. Pesta kerja tahun ini biasanya dilakukan sekali setahun, setelah masyarakat karo selesai melakukan panen padi. Untuk melengkapi acara ini biasanya menghidangkan masakan pagit-pagit tersebut

Bahan utama pembuatan pagit-pagit ini diambil dari rumput yang ada di lambung sapi saat disembelih. Tapi jangan salah, rumput ini belum jadi kotoran karena rumput ini diambil bukan dari usus besar sapi, kerbau atau kambing melainkan rumput ini masih segar karena ketika kerbau atau sapi memakan rumput maka rumput yang baru dimamah di mulut sapi, kerbau atau kambing akan ditelan dan dimasukan kedalam lumbung penyimpanan (perut besar) dan kemudian akan dimamah kembali, baru rumput tersebut akan dimasukan kebagian pencernaan.

Isi lambung sapi atau kerbau ini tentunya berasal dari rerumputan dan dedaunan yang telah dimamah biak hewan ini. Meski sudah hancur, pakan ini belum melewati proses pencernaan penuh sehingga belum dikeluarkan sebagai kotoran.

Sebagian kalangan tetap menganggap isi lambung kedua itu adalah kotoran muda. Namun kalangan lainnya menganggap bahan masakan khas ini merupakan rerumputan yang selulosanya sudah terurai menjadi karbohidrat-glukosa sehingga bernutrisi tinggi.

Dalam pembuatannya, isi lambung sapi atau kerbau atau kambing diolah sedemikian rupa bersama daging, kikil dan tulang. Kelapa, jeruk purut, serai, cabai, bawang putih, bawang merah, kunyit, asam, garam ditambahkan. Rempah-rempah digunakan untuk mengurangi aroma tajam khas lambung sapi.

Setelah jadi, trites berasa pahit, makanya juga disebut pagit-pagit (yang artinya pahit-pahit). Makanan ini dipercaya dapat mengobati maag, melancarkan sistem pencernaan, dan menambah nafsu makan.

Trites biasa disajikan pada saat pesta budaya, seperti perayaan merdang merdem (pesta tahunan), pesta pernikahan, pesta panen, dan pesta memasuki rumah baru. Masakan ini merupakan menu favorit dan suguhan pertama yang diberikan kepada orang yang dihormati.

Kalong adalah anggota bangsa kelelawar (Chiroptera) yang tergolong dalam marga Pteropus familia Pteropodidae, satu-satunya familia anggota subordo Megachiroptera. Kata “kalong” seringkali digunakan alih-alih kelelawar dalam percakapan sehari-hari, walaupun secara ilmiah hal ini tidak sepenuhnya tepat, karena tidak semua kelelawar adalah kalong. Kalong terutama merujuk pada kelelawar pemakan buah yang berukuran besar. Kelelawar buah terbesar, sekaligus kelelawar terbesar, adalah kalong kapauk Pteropus vampyrus yang bisa mencapai berat 1.500 gram, dan bentangan sayap hingga 1.700 mm.

Dalam bahasa Inggris kalong biasa dikenal sebagai Giant Fruit Bats atau Flying Foxes. Kalong menyebar di Asia tropis dan subtropis (termasuk di anak benua India), Australia, Indonesia, pulau-pulau di lepas pantai timur Afrika (tetapi tidak di daratan benuanya), serta di sejumlah kepulauan di Samudra Hindia dan Pasifik.

Ekologi
Kalong hanya memakan buah-buahan, bunga, nektar, dan serbuk sari; ini menjelaskan mengapa kalong terbatas penyebarannya di wilayah tropis. Kalong memiliki mata yang besar sehingga mereka dapat melihat dengan baik dalam keadaan kurang cahaya. Indra yang secara utama digunakan untuk navigasi adalah daya penciumannya yang tajam. Kalong tidak mengandalkan diri pada daya pendengaran seperti halnya kelelawar pemakan serangga yang menggunakan ekholokasi. Kalong sering mencari makanannya sampai jauh, hingga sejauh 40 mil dari tempatnya tidur.
Pada umumnya jenis kalong tidur dalam kelompok besar di pohon-pohon yang tinggi; pada pohon mati atau pada ranting-ranting yang gundul tak berdaun.

Olahan makanan daging kelelawar memang tak lazim dikonsumsi oleh masyarakat luas. Hal ini mengingat hewan malam ini memiliki taring dan tampak jijik. Namun, ditangan ahli kuliner makanan ekstrim, kesan menyeramkan menjadi tak tampak. Malah berganti menjadi mekanan penuh selera dan menggoda untuk disantap. Misalnya dibuat sup, sate, tongseng,

Di beberapa daerah di Indonesia, memakan kalong adalah hal yang biasa dan bermanfaat bagi kesehatan.

  • Menyembuhkan asma
  • Menyembuhkan alergi
  • Menyembuhkan penyakit kulit
  • Menyembuhkan gatal-gatal
  • Meredakan sakit tenggorokan
  • Meningkatkan stamina
  • Menjaga kesehatan kulit
  • Mengatasi keriput-keriput karena penuaan dini
  • Mempertahankan elastisitas kulit
  • Mengatasi kulit kering dan terkelupas

Landak adalah hewan pengerat (Rodentia) yang memiliki rambut yang tebal dan berbentuk duri tajam. Hewan ini ditemukan di Asia, Afrika, maupun Amerika, dan cenderung menyebar di kawasan tropika. Landak merupakan hewan pengerat terbesar ketiga dari segi ukuran tubuh, setelah kapibara dan berang-berang. Hewan ini agak “membulat” serta tidak terlalu lincah apabila dibandingkan dengan tikus. Karena rambut durinya, hewan lain yang mirip namun bukan pengerat, seperti hedgehog dan landak semut (Echidna), juga dikenali sebagai “landak”.

Landak secara umum adalah herbivora, dan menyukai daun, batang, khususnya bagian kulit kayu. Karena hal inilah banyak landak dianggap sebagai hama tanaman pertanian. Meskipun demikian, orang juga menjadikan landak sebagai salah satu bahan pangan. Sate landak merupakan salah satu menu khas dari Kabupaten Karanganyar.

Landak yang biasa dikenal orang adalah Hystrix, namun secara umum landak juga dipakai untuk menyebut anggota dari suku/famili Erethizontidae (landak Dunia Baru, marga: Coendou, Sphiggurus, Erethizon, Echinoprocta, dan Chaetomys) dan Hystricidae (landak Dunia Lama, marga: Atherurus, Hystrix, dan Trichys).

Bagi petani keberadaan landak (Hystrix brachyuran) kerap diburu hingga dimusnahkan lantaran dianggap mengganggu dan merusak tanaman.

Memasak daging landak seperti mengolah daging sate pada umumnya. Daging landak yang sudah dicabut bulu yang menyerupai jarum besar ini kemudian ditusuk lalu dibakar hingga matang, tanpa diberi olesan apa pun sebelumnya. Kemudian daging yang matang berukuran sebesar dua ruas jari ini dicampur dengan bumbu hasil racikan

Tekstur daging landak hampir sama seperti daging kambing. Namun, serat dagingnya lebih halus. Jika ditambah irisan jeruk nipis dan tomat serta bawang merah, rasa sate ini menjadi segar saat disantap.
Setelah daging matang, tusukan sate landak tersebut dihidangkan bersama potongan lontong dan ditaburi dengan bumbu kacang, kecap, dan irisan bawang merah. Untuk mempercantik penyajian, juga diberikan lalap irisan tomat, ketimun, dan daun selada.

Selain itu, jika dimakan, daging landak berkhasiat untuk kesehatan. Hati landak jika dibakar berkhasiat untuk menyembuhkan penyakit asma. Sedangkan daging dan ekornya untuk vitalitas alias membuat ‘senjata’ pria yang loyo menjadi perkasa.

  • 1
  • 2